Sebuah instalasi bunga sakura yang memukau, dibuat dari kertas washi tradisional dan kaca daur ulang, menjadi salah satu topik pembicaraan hangat di "Journées du Japon à Monaco" — Perayaan Diplomatik Peringatan ke-20 Tahun Hubungan Jepang-Monaco yang digelar pada 21 Maret 2026 di Monaco.
Upacara Pembukaan yang Dihadiri Keluarga Kerajaan — dan Liputan Halaman Depan Eropa

Upacara pembukaan acara bersejarah ini dihadiri oleh Putri Akiko dari Mikasa sebagai tamu kehormatan, bersama Y.M. Pangeran Albert II dan Putri Charlène dari Monaco. Artizan Co., Ltd. (Chiba, Jepang) bertanggung jawab atas arahan seni ruang sepanjang perayaan berlangsung.
Acara ini mendapatkan perhatian media yang luas pada hari berikutnya. Koran terkemuka Monaco, Monaco Matin, menampilkan liputan utama halaman depan dengan judul "La culture de l'amitié" (Budaya Persahabatan). Ikon Prancis Paris Match juga meliput acara ini di situs webnya dengan judul "Magnifique cerisier en fleur" (Pohon Sakura Bermekaran yang Megah), memperluas jangkauan berita ke seluruh Eropa.
Selain instalasi, upacara juga menampilkan pertunjukan tari oleh Mimosa Koike dari Ballet Monte-Carlo, yang mengenakan kostum yang menggabungkan bunga kertas washi. Selama acara, ada kesempatan untuk menjelaskan kostum tersebut kepada Putri Akiko dari Mikasa, yang berkomentar: "Saya dapat merasakan kelopak bunga sakura yang berjatuhan — ini adalah kostum yang sangat indah."
"Enishizakura": Nama Baru yang Lahir dari Pertalian yang Terjalin di Monaco

Terinspirasi oleh kehangatan pertemuan antara Jepang dan Monaco selama acara berlangsung, instalasi bunga sakura washi ini diberi nama baru: Enishizakura (縁桜), yang berarti "bunga sakura dari ikatan yang terjalin." Nama ini mencerminkan harapan agar bunga kertas ini dapat menjadi jembatan yang menghubungkan Jepang dengan dunia.
Instalasi ini membawa dua pesan utama.
Washi sebagai Medium untuk Estetika Jepang


Semua elemen bunga dibuat dari kertas washi Echizen, diproduksi di Prefektur Fukui dan terkenal dengan warisan 1.500 tahunnya. Alih-alih memperlakukan washi sekadar sebagai bahan, instalasi ini memposisikannya sebagai medium — wahana untuk menyampaikan rasa keindahan dan jiwa Jepang kepada dunia. Pengunjung dari berbagai usia berhenti untuk memotret bunga-bunga yang dibuat dengan tangan secara rumit dan mengajukan pertanyaan, menghasilkan respons yang hangat sekaligus antusias.
Ekologi Sirkular: Memberikan Kehidupan Baru pada Bahan yang Dibuang

Panel kaca biru (Minamo) dibentuk dengan mengumpulkan dan melelehkan lampu fluoresen — bahan yang semakin banyak dibuang seiring meluasnya penggunaan LED — dan membentuknya kembali menjadi karya seni baru. Kayu apung digunakan untuk kerangka struktural. Hasilnya adalah sebuah karya yang seluruhnya terdiri dari bahan alami dan daur ulang, dirancang untuk pada akhirnya kembali ke alam, mewujudkan keberlanjutan tanpa kompromi.
Workshop yang Sepenuhnya Terpesan Mencerminkan Keingintahuan Mendalam tentang Kerajinan Jepang




Selain instalasi utama, workshop pembuatan objek ditawarkan kepada pengunjung umum bekerja sama dengan seniman bunga michiko. Pendaftaran awal memenuhi setiap sesi hingga kapasitas penuh.
Di lingkungan taman Jepang Monaco yang tenang, peserta merakit karya seni mereka sendiri dengan menggabungkan ranting sakura asli, kelopak Enishizakura, dan alas kaca daur ulang. Momen terakhir di mana peserta membasahi bunga washi untuk melihatnya mekar perlahan mendapat reaksi penuh kebahagiaan dari para hadirin.
Pertanyaan tentang sejarah dan proses produksi washi terus mengalir sepanjang workshop — pengingat bahwa berbagi kisah di balik sebuah kerajinan dapat melampaui batas bahasa dan menciptakan koneksi yang tulus.
Memadukan Tradisi dengan Nilai-nilai Kontemporer

Merespons minat kuat yang ditunjukkan pengunjung untuk mengetahui lebih lanjut tentang latar belakang karya, Artizan berencana untuk menyertakan materi visual bersama instalasi mendatang guna mengkomunikasikan cerita secara lebih efektif. Perusahaan terus mengembangkan seni ruang yang menyatukan reinterpretasi modern dari keahlian tradisional dan kepekaan ekologis.