Filmarks Culture Wear, jenama pakaian dari Filmarks, salah satu layanan ulasan film, drama, dan anime terbesar di Jepang, merilis koleksi pakaian resmi Swallowtail Butterfly untuk merayakan perilisan teater Swallowtail Butterfly 4K Remaster. Penjualan pre-order dibuka pukul 12.00 pada 4 September (Jumat), bertepatan dengan hari perilisan film tersebut, melalui Filmarks Store.
Swallowtail Butterfly, Tetap Dicintai Meski 30 Tahun Berlalu

Sejak dirilis pada tahun 1996, film Swallowtail Butterfly karya sutradara Shunji Iwai terus memengaruhi generasi kreator dan penggemar film. Berlatar di Yentown, sebuah kota fiksi tanpa negara tempat bahasa dan budaya berbaur, yang dibangun pada era ketika yen merupakan mata uang terkuat di dunia, film ini tetap terasa nyata bahkan setelah 30 tahun berlalu dan masih memikat penonton hingga hari ini. Kini, setelah diremaster dalam 4K dengan tata suara Dolby Atmos, film ini akan ditayangkan secara nasional pada 4 September (Jumat), 2026.
Jajaran Produk Swallowtail Butterfly × Filmarks Culture Wear
Semua harga sudah termasuk pajak
Swallowtail Butterfly × FCW Steel Tower T — ¥8.800

Ukuran: S hingga XXL
Bagian depan menampilkan cetakan menara transmisi baja yang menjadi simbol latar film ini, Yentown, sementara bagian belakang tampil berani dengan tipografi "The story of Yentowns in Yentown" yang dipadukan dengan judul film—sebuah desain yang dibuat berdasarkan pemandangan paling ikonik dalam film, agar mudah dikenakan sehari-hari.
Swallowtail Butterfly × FCW Ageha and Glico T — ¥8.800

Ukuran: Ukuran wanita hingga XXL (kaus dengan potongan pas badan yang menciptakan kembali nuansa retro rilis asli tahun 1996, juga tersedia dalam potongan unisex standar)
Desain ini menangkap momen Ageha dan Glico tertawa bersama di atas bak truk yang membawa piano—sebuah kenangan dari masa-masa mereka di Yentown, saat keduanya menjadi dekat layaknya keluarga. Sebuah adegan yang pasti akan membangkitkan kenangan bagi siapa saja yang mengenal film ini.
Lihat produk / Lihat ukuran wanita
Swallowtail Butterfly × FCW YTB T — ¥8.800

Ukuran: Ukuran wanita hingga XXL (kaus dengan potongan pas badan yang menciptakan kembali nuansa retro rilis asli tahun 1996, juga tersedia dalam potongan unisex standar)
Bagian depan menampilkan adegan Glico bernyanyi di atas panggung sebagai bagian dari YEN TOWN BAND, menggabungkan sosoknya saat tampil dengan tipografi "Swallowtail Butterfly" untuk desain yang mempertemukan musik dan film.
Lihat produk / Lihat ukuran wanita
Swallowtail Butterfly × FCW Ageha Embroidery T — ¥5.500

Ukuran: S hingga L
Satu poin bordir mewakili tato kupu-kupu ekor walet (swallowtail butterfly) di dada Glico, sementara bagian belakang menampilkan judul film di samping motif ulat. Siluetnya yang ringkas membangkitkan suasana tahun 1990-an, saat film ini pertama kali dirilis.
Swallowtail Butterfly Magnet Set — ¥2.750

Satu set berisi tiga magnet yang menggunakan potongan adegan film dan ilustrasi YEN TOWN BAND. Dipajang di tempat yang dekat, seperti kulkas atau meja, magnet ini memungkinkan penggemar menikmati kenangan Swallowtail Butterfly dalam kehidupan sehari-hari—produk yang juga menarik sebagai koleksi.
Swallowtail Butterfly Blanket — ¥19.800

Selimut berumbai yang didesain berdasarkan papan nama "Yen Town Band" yang dilihat Fei Hong (Hiroshi Mikami) di sekitar kota menjelang akhir film. Motif kupu-kupu ekor walet dan logonya ditenun dengan berani ke dalam kain, menyatukan visual yang melambangkan film dan musiknya.
Detail Perilisan
| Tanggal rilis | 4 September (Jumat), mulai pukul 12.00 |
| Tanggal akhir penjualan | 30 September (Rabu) pukul 23.59 |
| Cara membeli | Penjualan pre-order melalui situs e-commerce Filmarks Store |
| Estimasi pengiriman | Awal November hingga akhir Desember 2026 (tergantung barang) |
Swallowtail Butterfly 4K Remaster

©SWALLOWTAIL PRODUCTION COMMITTEE
Sinopsis
Dahulu kala, ketika yen adalah mata uang terkuat di dunia, para imigran menyebut kota yang berkembang pesat itu sebagai "Yentown"—ditulis dengan karakter yang berarti "Ibu Kota Yen". Namun, warga lokal Jepang membenci nama tersebut dan mengejek para imigran dengan sebutan yang sama, "Yentown", kali ini dengan karakter yang berarti "Pencuri Yen". Inilah ibu kota yen, Yentown—kota impian, tempat yen dapat mewujudkan mimpi... Dan inilah kisah para Yentown yang datang ke Yentown untuk menggali yen. Setelah ibunya yang merupakan seorang pelacur meninggal, seorang gadis (Ayumi Ito) yang berpindah-pindah rumah ditampung oleh Glico (Chara), seorang pelacur Yentown dari Shanghai yang bermimpi menjadi penyanyi. Glico, yang memiliki tato kupu-kupu ekor walet di dadanya, menamai gadis tanpa nama itu "Ageha". Ageha segera mulai bekerja di Aozora, sebuah toko barang serba ada tempat Fei Hong (Hiroshi Mikami), pria dari Shanghai yang tertarik pada Glico, dan Ran (Atsuro Watabe) yang misterius berkumpul. Suatu malam, Ageha diserang oleh Sudo, anggota kelompok Katsushika dan salah satu klien Glico, tetapi ia berhasil diselamatkan tepat waktu oleh mantan petinju yang tinggal di sebelah. Sudo jatuh dari gedung apartemen dan tewas, dan di dalam perutnya ditemukan kaset yang berisi lagu "My Way"—isi sebenarnya dari kaset tersebut ternyata adalah data magnetis untuk uang kertas 10.000 yen.
Pemeran: Hiroshi Mikami, Chara, Ayumi Ito, Yosuke Eguchi, Andy Hui, Atsuro Watabe, Tomoko Yamaguchi, Nene Otsuka, Kaori Momoi
Sutradara & Penulis Skenario: Shunji Iwai
Musik: Takeshi Kobayashi
Lagu Tema: "Swallowtail Butterfly (Ai no Uta)" oleh YEN TOWN BAND (diproduseri oleh Takeshi Kobayashi, vokal oleh Chara)
Novel Asli: Swallowtail Butterfly karya Shunji Iwai (Kadokawa Bunko / KADOKAWA)
Distribusi: Pony Canyon
Dirilis asli 14 September 1996 / 148 menit / Jepang / Berwarna
©SWALLOWTAIL PRODUCTION COMMITTEE
Situs resmi: https://swallowtail4k.jp
Informasi Penayangan
Tayang nasional mulai 4 September (Jumat) di TOHO Cinemas Hibiya dan bioskop lainnya.
Filmarks Culture Wear

Filmarks Culture Wear adalah jenis "pakaian budaya" baru dari Filmarks. Alih-alih memperlakukan film dan anime hanya sebagai motif untuk dikonsumsi, desainnya ditujukan untuk beresonansi dengan gagasan, emosi, dan pandangan dunia sebuah karya—melampaui sekadar menyukai sesuatu menjadi menyatu dengan pesannya. Ini bukan sekadar suvenir, melainkan bukti identitas.
Mengenakan karya favorit berarti hidup di dalam dunianya—sebuah bentuk ekspresi diri.