Shochu ubi jalar otentik baru bernama “Fukukinzan,” yang terinspirasi oleh cetakan balok kayu ikonik Ombak Besar Kanagawa karya Katsushika Hokusai, akan mulai dijual pada 9 April 2026.
Ikhtisar Produk
Satsuma Kinzan-gura, sebuah tempat penyulingan yang menjunjung tinggi teknik pembuatan shochu tradisional dari zaman Edo, telah menciptakan produk ini sebagai kolaborasi antara keahlian tradisional Jepang dan seni dari maestro zaman Edo, Katsushika Hokusai. Basis spirit ubi jalar koji putih dipadukan secara halus dengan “koji emas” yang langka, menghasilkan rasa yang lembut, penuh, dan sangat aromatik.
Desain botolnya berpusat pada warna “biru indigo,” yang dimiliki bersama oleh karya seni dan botolnya. Ombak dari cetakan ukiyo-e dan daun emas yang berputar di dalam botol bersatu dalam kesan visual yang harmonis. Produk ini juga direkomendasikan sebagai oleh-oleh untuk pengunjung asing dan mereka yang tertarik dengan budaya Jepang.
- Situs Web Merek: https://www.hamadasyuzou.co.jp/kinzan/hokusai/
- Situs EC: https://shochu.life/item/007633

Katsushika Hokusai: Seorang Maestro yang Membentuk Seni Dunia
Katsushika Hokusai (1760–1849) adalah salah satu seniman Jepang yang paling terkenal dari akhir zaman Edo. Selama karier yang membentang 90 tahun, ia menghasilkan beragam karya termasuk potret aktor, potret wanita cantik, lanskap, ilustrasi buku, dan lukisan burung dan bunga, meninggalkan warisan yang melampaui cakupan khas seniman ukiyo-e.
Di antara karya-karyanya yang paling terkenal, “Tiga Puluh Enam Pemandangan Gunung Fuji” (total 46 cetakan) dan buku instruksi seni “Hokusai Manga” (15 volume) diterima secara luas pada masanya oleh orang-orang dari semua kelas sosial di Edo, menjadi buku terlaris pada era tersebut. Karyanya menyebar ke Eropa dari sekitar pertengahan abad ke-19, di mana ia menjadi kekuatan pendorong di balik gerakan Japonisme. Pada tahun 1998, majalah Amerika “Life” melakukan survei terhadap “100 orang terpenting dari 1.000 tahun terakhir,” dan Hokusai adalah satu-satunya orang Jepang yang terpilih. Saat ini, pameran dan acara Hokusai terus diadakan di seluruh dunia, dengan karya-karyanya menginspirasi keajaiban dan emosi pada orang-orang di mana-mana.
Ombak Besar Kanagawa: Mahakarya Ikonik Hokusai
Lukisan ini secara luas dianggap sebagai mahakarya yang menentukan dari “Tiga Puluh Enam Pemandangan Gunung Fuji,” yang dibuat oleh Hokusai di usia 70-an. Ia menangkap momen ketika puncak gelombang yang runtuh, menyerupai tangan-tangan terulur yang tak terhitung jumlahnya, tampak menerjang perahu-perahu nelayan kecil di tengah laut. Dikenal secara internasional sebagai “Ombak Besar,” ia dianggap sebagai lukisan Jepang yang paling mudah dikenali di dunia.
Gambar tersebut menyajikan kontras dramatis antara ombak hiruk pikuk yang mengancam perahu dan kehadiran Gunung Fuji yang tenang dan jauh—sebuah penjajaran antara gerakan dan keheningan, dekat dan jauh. Penggunaan “biru Prusia” (bero-ai) yang berani oleh Hokusai memengaruhi seniman Eropa mulai dari pelukis seperti Manet, Monet, Degas, dan Van Gogh, hingga komposer Claude Debussy, yang menggunakan gambar ini di sampul puisi simfoninya “La Mer.”
Shochu “Fukukinzan” diawasi oleh Mitsuru Uragami, kolektor “Hokusai Manga” terkemuka di dunia, untuk memastikan dunia karya seni tersebut diekspresikan secara setia dalam produk.