KOKON SHODAI: Seri Baru yang Menjembatani 400 Tahun Keramik Shodai-yaki Kumamoto dengan Santapan Sehari-hari

Diterbitkan: 3 Juni 2026
KOKON SHODAI: Seri Baru yang Menjembatani 400 Tahun Keramik Shodai-yaki Kumamoto dengan Santapan Sehari-hari

Seri produk baru bernama KOKON SHODAI telah lahir, berakar pada tradisi keramik Shodai-yaki yang telah diwariskan selama sekitar 400 tahun di kaki Gunung Kodai, Kumamoto. Seri ini mengambil namanya dari kata dalam bahasa Jepang untuk "kuno" (古, ko) dan "sekarang" (今, kon), memadukan penghormatan terhadap masa lalu dengan sensibilitas kontemporer untuk menciptakan pintu masuk baru ke dalam kerajinan warisan ini.

KOKON SHODAI menghubungkan budaya yang tumbuh dari tanah regional yang sama — mi somen Nankan, sumpit bambu, dan keramik Shodai-yaki — mengusulkan cara agar tradisi-tradisi ini dapat dijalin secara alami ke dalam kehidupan sehari-hari.

Seri ini dikembangkan melalui Tim Eksplorasi Kyushu dari Hakata Daimaru, sebuah inisiatif yang telah bekerja bersama produsen dan perajin regional di seluruh Kyushu untuk menyajikan budaya lokal melalui perspektif baru.

Latar Belakang

Kota Nankan di Prefektur Kumamoto adalah rumah bagi budaya kuliner yang berakar kuat, termasuk somen Nankan dan Nankan-age (tahu goreng). Area yang sama juga merupakan tempat kelahiran keramik Shodai-yaki, sebuah tradisi keramik dengan sejarah sekitar 400 tahun. Meskipun berbagi tanah dan asal-usul budaya yang sama, "makanan" dan "kerajinan" jarang dikaitkan secara eksplisit — sampai sekarang.

KOKON SHODAI diciptakan untuk menghubungkan budaya-budaya regional ini dan menumbuhkan rasa baru tentang apa artinya berasal dari Nankan. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas yang bekerja sama dengan Prefektur Kumamoto untuk mempromosikan aspek baru dari kerajinan tradisional, dengan visi agar tradisi buatan tangan ini diterima secara alami dalam kehidupan modern sehari-hari dan diwariskan ke generasi mendatang.

Filosofi panduannya adalah keindahan yang tenang dan sehari-hari — wadah yang digunakan secara alami, bukan sekadar dipajang. Nilai warisan kerajinan tangan Nankan telah dibentuk dengan penuh pertimbangan untuk kehidupan kontemporer, tanpa kehilangan kehangatan bersahaja dari asal-usulnya.

Dengan menghubungkan makanan dan kerajinan, KOKON SHODAI bercita-cita untuk memicu siklus budaya baru — di mana kerajinan tradisional tidak hanya tersimpan sebagai relik, tetapi menemukan jalan ke dalam kehidupan sehari-hari dan terus digunakan untuk generasi mendatang.

Produk KOKON SHODAI

Mengambil inspirasi dari lanskap regional Nankan dan ritme kehidupan sehari-hari, KOKON SHODAI mengembangkan produk baru dan mengusulkan cara-cara baru dalam menggunakan Shodai-yaki. Tujuannya bukan untuk peralatan makan acara khusus, melainkan karya yang secara alami diraih hari demi hari — terinspirasi oleh waktu makan keluarga, pergantian musim, dan momen-momen kecil kehidupan sehari-hari.

Mangkuk Somen

Mangkuk Somen
Detail Mangkuk Somen

Produk ini menyatukan tiga hal yang tumbuh dari tanah yang sama — keramik Shodai-yaki, somen Nankan, dan sumpit bambu Yamachiku — yang belum pernah disatukan dalam satu karya sebelumnya. Somen Nankan dikatakan memiliki metode produksi yang diwariskan dari seseorang dari Shodoshima selama era Kan'ei (lebih dari 300 tahun yang lalu), menjadikannya bagian berharga dari warisan kuliner lokal. Dengan menggabungkan ketiganya, produk ini menyatukan budaya lokal dalam satu bentuk nyata.

Di luar kebaruan visualnya, mangkuk ini memiliki lubang drainase yang fungsional dan dirancang dengan cermat, mewakili ekspresi baru yang membawa keahlian Shodai-yaki ke dalam kehidupan modern. Ini adalah karya yang dirancang agar setiap kali Anda menggunakannya di meja makan, Anda merasakan hubungan dengan budaya wilayah tersebut dan tangan yang membentuknya.

Mangkuk Nasi Kecil

Mangkuk Nasi Kecil
Detail Mangkuk Nasi Kecil

Mangkuk nasi berukuran lebih kecil ini mudah digunakan baik untuk anak-anak maupun orang dewasa yang lebih tua, sekaligus beradaptasi dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari yang berubah. Apakah Anda ingin makan sedikit lebih sedikit di malam hari atau hanya sekadar menginginkan porsi yang lebih kecil, ide di balik karya ini adalah untuk mengubah pilihan kecil sehari-hari itu dari rasa pembatasan menjadi sesuatu yang dinanti-nantikan. Memilih dan menggunakan mangkuk yang indah dapat memperkaya waktu makan yang paling sederhana sekalipun — pendamping bersahaja untuk kehidupan sehari-hari.

Mangkuk Tanaman dan Herbal

Mangkuk Tanaman dan Herbal
Detail Mangkuk Tanaman dan Herbal

Wadah kecil ini dirancang untuk menata bunga taman dan tanaman musiman secara santai. Dengan membawa tanaman hijau ke dapur, meja makan, atau pintu masuk, ini menambahkan sentuhan warna pada momen-momen biasa dalam kehidupan sehari-hari. Ini tidak dimaksudkan untuk memajang bunga berharga, melainkan untuk kebahagiaan kecil menghabiskan waktu bersama bunga liar dan tanaman herbal yang familiar — sepotong Shodai-yaki yang menghadirkan keajaiban sehari-hari.

Rekap Acara POP-UP

POP-UP waktu terbatas diadakan di toko Daimaru Fukuoka Tenjin dari 20 Mei hingga 26 Mei 2026, di mana pengunjung dapat memegang produk KOKON SHODAI secara langsung dan merasakan sendiri warisan kerajinan tangan regional.

Suasana acara POP-UP

Acara POP-UP
Pajangan POP-UP
Pengunjung POP-UP

Di lokasi, seluruh jajaran produk KOKON SHODAI tersedia untuk dibeli, bersama dengan informasi tentang Shodai-yaki, somen Nankan, dan sumpit bambu serta latar belakang budaya tempat mereka muncul. Banyak pengunjung mendapat kesempatan untuk terhubung dengan daya tarik tradisi regional ini.

Menu Musiman di &LOCALS Acros Fukuoka

Mulai awal Juni 2026, &LOCALS Acros Fukuoka menyajikan menu waktu terbatas: Shodai-yaki de itadaku Nankan New Nyumen (Dingin) — hidangan mi dingin yang dinikmati dalam keramik Shodai-yaki. Ini menawarkan cara untuk merasakan dunia KOKON SHODAI tidak hanya melalui wadah, tetapi melalui makanannya sendiri.

Hidangan mi dingin disajikan dalam Shodai-yaki

Mi yang digunakan adalah somen Nankan dari Narahara Seimensho, yang terkadang disebut sebagai "mi hantu". Dengan sejarah lebih dari 300 tahun, mi ini masih dibuat sepenuhnya dengan tangan hanya menggunakan gandum, garam, dan minyak wijen. Mi ini dikenal karena teksturnya yang sangat kuat dan hasil akhir yang lembut yang membedakannya dari somen biasa.

Hidangan ini diberi topping olahan Nankan-age (tahu goreng) potong halus buatan rumah, dimasak perlahan dengan kecap Kyushu, kibizato (gula millet), dan sake merah. Kaldu dibuat dengan serutan niboshi dari Kota Unzen, Nagasaki, dan rumput laut Rishiri, dengan hiasan merica yuzu dari Kota Soeda yang menambahkan aksen lembut dan tepat. Mangkuk ini hadir sebagai perayaan berlapis dari bahan-bahan lokal dan kerajinan tangan.

  • Harga: ¥1.100 (termasuk pajak)
  • Tanggal mulai: Awal Juni 2026 (dapat disesuaikan)
  • Lokasi: &LOCALS Acros Fukuoka (1-1-1 Tenjin, Chuo-ku, Kota Fukuoka, Fukuoka 810-0001)

Pengrajin di Balik KOKON SHODAI

Tungku Nakahira (Kota Arao, Kumamoto) / Perajin Keramik: Tomonari Nishikawa
Meneruskan teknik tradisional Shodai-yaki shakugake nagashi (glasir tuang gayung), Nishikawa menciptakan karya yang benar-benar dapat dinikmati oleh pengguna. Ia terus membuat wadah yang menyatu secara alami ke dalam kehidupan sehari-hari.

Tungku Shoudai Hontani Chihiro (Kota Arao, Kumamoto) / Perajin Keramik: Tomohiro Maeno
Menggabungkan teknik dari keramik yachimun Okinawa, Maeno menafsirkan ulang Shodai-yaki dengan sensibilitas kontemporer. Karyanya memadukan tradisi dengan estetika yang lembut dan modern.

Tungku Issenzama (Kota Nagasu, Kumamoto) / Perajin Keramik: Yuichi Yamaguchi
Menggunakan tanah lokal dan abu jerami, Yamaguchi mengekspresikan warna dan tekstur asli. Ia menghargai pendekatan yang membumi dan sehari-hari dalam berkarya.

Yamachiku (Kota Nankan, Kumamoto)
Didirikan pada tahun 1963, Yamachiku berdedikasi khusus untuk membuat sumpit bambu. Perusahaan ini terus menciptakan produk yang berbicara baik kepada orang yang menggunakannya maupun makanan yang dimakan.